Istri Tidak Mendengar Nasihat Suami

Tanya:

Ustadz, saya ingin bertanya apakah kita wajib mengikuti segala apa yang telah diamanatkan (dicontohkan) oleh Nabi kita tercinta, Nabi Muhammad SAW, dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Bagaimana sikap saya bila keluarga (istri) merasa berat untuk melaksanakannya? Istri saya merasa pada kehidupan saat ini sudah lumrah sedikit melanggar apa-apa yang telah dicontohkan oleh Nabi (sebagai contoh perempuan menampilkan aurat, perempuan tidak pernah mendengar nasehat suami tapi lebih percaya orang lain, perempuan tidak bersyukur atas rezki yang telah dipercayakan kepada suaminya).

Saat ini saya merasa sangat terbebani dengan keadaan ini, saya hanya bisa pasrah dan tawakal kepada Allah SWT agar tetap sabar berusaha dan berjuang untuk mengisi kehidupan ini.

Jawab:

Allah berfirman dalam surat al-Hasyr ayat 7:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Jadi, kita wajib mengikuti segala apa yang telah diamanatkan (dicontohkan) oleh Nabi kita tercinta, Nabi Muhammad SAW, dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Bagaimana menyikapi istri yang tidak siap untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya? Jadilah contoh teladan dalam rumah tangga dan dengan sabar mengingatkan istri akan arti kehidupan ini bagi manusia. Dakwah yang paling efektif adalah dengan memberi contoh. Jalan ini pula yang ditempuh Nabi Besar SAW. Bila semua usaha sudah Anda tempuh, maka gugurlah kewajiban Anda terhadap istri (dalam masalah dakwah) di hadapan Allah SWT. Berikut informasi yang bisa Anda gunakan untuk melunakkan hati istri Anda insya Allah.

Antara Iman, Cinta, dan Pengorbanan

Kita diwajibkan beriman kepada Allah dan beriman bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasul-Nya yang terakhir. Arti iman kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekedar percaya tapi lebih jauh adalah mengamalkan ajaran-ajaran-Nya dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Apabila seseorang masih merasa keberatan untuk mengamalkan ajaran Allah dan Rasul-Nya maka orang semacam itu sebenarnya belum sepenuhnya beriman. Kalau pengamalan diibaratkan pengorbanan, maka iman itu seperti cinta. Semakin besar pengorbanan yang diberikan kepada seseorang yang kita cintai, semakin terasa cinta itu bersemai dalam jiwa. Sebaliknya, semakin minim pengorbanan yang kita berikan untuk seseorang, semakin terasa pula bahwa cinta itu tidak hanya milik si dia. Pengamalan agama seseorang membuktikan ukuran iman orang itu pada Allah. Bahkan, pengorbanan, cinta, dan iman adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan.

Pengorbanan akan terasa berat bila diberikan kepada sesorang yang kurang kita cintai. Sebaliknya pengorbanan itu terasa lezat bilamana ditujukan kepada seseorang yang kita cintai.

Pengorbanan (pengamalan) adalah bukti cinta seseorang pada Tuhannya, dan rasa cinta adalah bukti imannya. Di sinilah terlihat apakah dia mukmin yang sebenarnya atau tidak? Dengan kata lain, arti mukmin yang sebenarnya adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi diri sendiri.

Rasulullah SAW bersabda dalam Shahih Bukhari:

…ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

Maksudnya: Ada tiga hal, kalau bisa kita milikinya akan mendapat puncak lezatnya iman: 1. Lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada lainnya bahkan lebih dari mencintai dirinya sendiri. 2. … 3. …

Pesan kepada Istri Penanya

Mari kita selamatkan iman kita dengan mengikuti dan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan kemampuan kita dan meninggalkan larangan-Nya tanpa terkecuali. Bila cinta kita pada Allah memang masih minim, berusahalah untuk menambahnya dengan memperbanyak amalan shaleh. Jangan sekali-kali memberikan komentar miring pada ajaran-ajaran Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Sayangilah Allah yang selalu sayang pada kita, pengatur rezki kita, penjaga kesehatan dan keselamatan kita, pengatur masa depan anak-anak kita.Yakinlah bahwa kehebatan hamba bukanlah pada sikap merongrong ajaran Sang Penciptanya. Tetapi kehebatan, kebanggaan dan ketenangan hamba itu selalu berada pada ridha Pencipta alam semesta.

Buah dari semua itu akan terlihat di hari saat kita berada di hadapan Allah Yang Maha Agung untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalan kita sekarang ini. Carilah ridha Allah dengan mengikuti ajaran-Nya dan ajaran Rasul-Nya.

Selamat menyandang hidayah. Wallahu Ta’ala a’lam.

Rusli Hasbi

Sumber: http://ruslihasbi.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s